SAMARINDA – Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian sejumlah pihak, termasuk di Kalimantan Timur. Meskipun sebagian besar kebutuhan pangan daerah masih dipenuhi dari pasokan dalam negeri, fluktuasi kurs tetap berpotensi memengaruhi harga pangan melalui peningkatan biaya distribusi dan logistik.
Ekonom Senior Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur, Azhari Novy Sucipto, menjelaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal. Menurutnya, dinamika geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, menjadi salah satu penyebab utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Selain faktor geopolitik, peningkatan kebutuhan valuta asing secara musiman juga turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar. Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari pembayaran utang luar negeri serta repatriasi dividen yang dilakukan sejumlah pelaku usaha.
Meski demikian, Azhari menilai dampak pelemahan rupiah terhadap ketersediaan pangan di Kalimantan Timur tidak terjadi secara langsung. Hal ini karena sebagian besar pasokan pangan yang beredar di wilayah tersebut masih berasal dari berbagai daerah di Indonesia, sementara kontribusi produk impor relatif kecil.
Kondisi tersebut membuat risiko yang lebih perlu diperhatikan berada pada sektor distribusi. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Kalimantan Timur, Ali Wardana, mengatakan bahwa pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya operasional transportasi yang digunakan untuk mendatangkan kebutuhan pangan ke daerah.
Menurutnya, sejumlah komponen biaya transportasi masih berkaitan dengan mata uang dolar AS. Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya logistik dapat mengalami kenaikan yang kemudian berdampak pada harga barang.
Peningkatan biaya distribusi tersebut pada akhirnya berpotensi menambah harga jual produk yang diterima masyarakat. Dengan kata lain, kenaikan biaya logistik dapat memberikan efek berantai hingga ke tingkat konsumen.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Bank Indonesia Kalimantan Timur bersama pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan pasokan pangan. Langkah ini dilakukan guna memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi serta menjaga stabilitas harga di tengah tekanan ekonomi global.
Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk menjaga ketahanan pasokan pangan di Kalimantan Timur agar risiko kenaikan inflasi pangan dapat diminimalkan dan kondisi pasar tetap terkendali.
Sumber: kaltimpost.jawapos.com