Banyak penggemar slot yang penasaran dengan slot plinko. Permainan ini menyajikan kombinasi antara strategi dan keberuntungan.

Kelangkaan Solar Subsidi di Jawa Timur Belum Usai, Distribusi Logistik Mulai Terganggu

Sabtu, 27 Jun 2026 12:19 WIB
SHARE

SURABAYA – Antrean panjang kendaraan, khususnya truk angkutan barang, masih terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai wilayah Jawa Timur. Tingginya permintaan Biosolar bersubsidi menyebabkan kepadatan di sejumlah titik dan mulai berdampak pada kelancaran distribusi logistik.

Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan terlihat di sejumlah wilayah seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Timur. Para pengemudi truk mengaku harus mengantre selama beberapa jam untuk memperoleh solar subsidi yang menjadi bahan bakar utama operasional kendaraan mereka.

Kepadatan juga terjadi di sejumlah SPBU, di antaranya kawasan Kalianak, Margomulyo, Kenjeran, Jalan Raya Taman, Medaeng, Buduran, dan Bunder. Di beberapa lokasi, antrean kendaraan bahkan memanjang hingga memenuhi badan jalan dan memicu kemacetan lalu lintas.

Di kawasan Margomulyo, Surabaya, panjang antrean dilaporkan mencapai lebih dari satu kilometer. Kondisi tersebut menyebabkan arus kendaraan menuju kawasan Tandes melambat dan mengganggu mobilitas pengguna jalan lainnya.

Sejumlah sopir mengaku kesulitan mendapatkan Biosolar dalam beberapa hari terakhir. Mereka berharap distribusi BBM subsidi dapat segera kembali normal agar aktivitas pengiriman barang tidak semakin terhambat.

Panjangnya antrean mulai menimbulkan dampak terhadap sektor logistik. Keterlambatan memperoleh bahan bakar berpotensi meningkatkan biaya operasional angkutan barang, terutama jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lebih lama.

Pelaku usaha transportasi juga mengkhawatirkan terganggunya distribusi kebutuhan pokok ke berbagai daerah. Apabila pasokan BBM belum kembali normal, biaya logistik dikhawatirkan meningkat dan berpotensi memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.

Menanggapi kondisi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga menyatakan bahwa ketersediaan BBM subsidi di Jawa Timur secara umum masih mencukupi. Perusahaan menjelaskan bahwa antrean terjadi karena tingginya konsumsi Biosolar di sejumlah wilayah.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan bahwa realisasi penyaluran Biosolar sepanjang Juni telah melampaui 100 persen dari kuota berjalan. Sementara itu, realisasi penyaluran Pertalite telah mencapai sekitar 96 persen dari kuota yang dialokasikan.

Untuk mengatasi kepadatan, Pertamina telah melakukan berbagai langkah percepatan distribusi, mulai dari memprioritaskan pengiriman dari terminal utama, melakukan alih suplai dari terminal terdekat, hingga menerapkan skema double alih suplai di wilayah dengan permintaan tertinggi. Selain itu, armada mobil tangki juga dioptimalkan untuk mempercepat distribusi ke daerah yang mengalami lonjakan kebutuhan.

Di sisi lain, sejumlah pemerintah daerah mulai melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi distribusi BBM. Pemerintah Kabupaten Probolinggo, misalnya, melakukan inspeksi ke salah satu SPBU guna memastikan ketersediaan BBM subsidi maupun non-subsidi tetap terjaga.

Pertamina juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Perusahaan menjelaskan bahwa stok BBM yang tersedia di terminal maupun SPBU berbeda dengan kuota tahunan yang ditetapkan pemerintah. Meski penyaluran Biosolar pada Juni telah melampaui kuota berjalan, distribusi akan terus dioptimalkan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi hingga akhir tahun serta aktivitas logistik dapat kembali berjalan lancar.

Sumber: Artik.id