Batam – Reformasi tata kelola dan penyesuaian tarif layanan pelabuhan di Batam dinilai perlu dipandang sebagai langkah strategis jangka panjang, bukan sekadar kenaikan biaya operasional. Kebijakan tersebut diyakini dapat memperkuat kedaulatan logistik nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di jalur perdagangan maritim internasional.
Ketua Woman in Logistics and Transport (Wilat) Kepulauan Riau, Dr. Lindasari Novianti, mengatakan transformasi pelabuhan merupakan bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional. Menurutnya, Batam memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di kawasan Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Ia menjelaskan lebih dari 102 ribu kapal melintasi Selat Malaka setiap tahun. Jalur tersebut mengakomodasi sekitar 22 persen perdagangan maritim dunia dan hampir 29 persen perdagangan minyak global. Namun, hingga kini Indonesia dinilai belum mampu memaksimalkan manfaat ekonomi dari posisi geografis tersebut karena sebagian besar aktivitas logistik dan jasa maritim masih dinikmati oleh negara lain.
Linda menilai kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan suatu negara dalam memperoleh economic rent capture, yaitu memaksimalkan nilai ekonomi dari keunggulan geografis yang dimiliki. Oleh karena itu, penguatan sektor pelabuhan menjadi langkah penting agar Indonesia memperoleh manfaat yang lebih besar dari aktivitas perdagangan internasional.
Selain meningkatkan daya saing, reformasi pelabuhan juga dinilai penting untuk memperkuat ketahanan rantai pasok nasional. Berbagai krisis global dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pandemi Covid-19 hingga konflik geopolitik yang mengganggu jalur pelayaran dunia, menunjukkan pentingnya memiliki sistem logistik domestik yang tangguh dan mandiri.
Menurut Linda, negara yang tidak memiliki kapasitas logistik yang kuat akan lebih rentan terhadap gangguan distribusi dan memiliki daya saing yang lebih rendah dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
Ia menambahkan, reformasi yang dilakukan di Pelabuhan Batam, termasuk penyesuaian struktur tarif dan pola operasional, merupakan investasi jangka panjang yang dapat meningkatkan kapasitas logistik nasional sekaligus memperkuat daya saing perusahaan logistik dalam negeri.
Linda juga mencontohkan sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Korea Selatan yang berhasil membangun sektor pelabuhan yang kompetitif melalui investasi infrastruktur, reformasi kelembagaan, serta kebijakan yang mendukung pengembangan industri logistik nasional.
Menurutnya, Batam tidak seharusnya hanya berperan sebagai wilayah transit. Reformasi yang dilakukan BP Batam diharapkan mampu mendorong peningkatan aktivitas bernilai tambah, seperti bongkar muat, pergudangan, layanan multimoda, freight forwarding, hingga berbagai layanan logistik lainnya agar semakin banyak dikelola oleh perusahaan nasional.
Ia menegaskan bahwa penguatan Pelabuhan Batam merupakan bagian dari agenda strategis nasional untuk meningkatkan nilai ekonomi dari posisi Indonesia di Selat Malaka, memperkokoh ketahanan rantai pasok, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Sumber: