Banyak penggemar slot yang penasaran dengan slot plinko. Permainan ini menyajikan kombinasi antara strategi dan keberuntungan.

Harga Diesel Non Subsidi Naik, Biaya Operasional Logistik Disebut Membengkak hingga 50 Persen

Jumat, 08 May 2026 11:01 WIB
SHARE

JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diesel non subsidi mulai memberikan tekanan besar terhadap sektor logistik dan transportasi barang. Pelaku usaha angkutan truk menyebut lonjakan harga energi tersebut menyebabkan biaya operasional meningkat signifikan, bahkan mencapai 50 persen.

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengungkapkan kenaikan harga diesel non subsidi tidak hanya berdampak pada biaya bahan bakar, tetapi juga memicu kenaikan harga komponen pendukung seperti suku cadang, oli, dan ban kendaraan.

Ketua Umum DPP Aptrindo, Gemilang Tarigan, mengatakan komponen-komponen tersebut selama ini memiliki kontribusi sekitar 15 persen terhadap total biaya operasional kendaraan logistik.

“Kenaikan harga BBM berdampak pada kenaikan harga spare part, oli, dan ban yang ikut terdorong akibat situasi global,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Menurutnya, dampak lonjakan biaya semakin terasa akibat konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi internasional. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus menyesuaikan biaya distribusi di tengah lemahnya daya beli masyarakat.

Di sisi lain, pelaku usaha logistik di daerah juga mengeluhkan pembatasan pembelian solar subsidi yang dinilai semakin menyulitkan operasional armada truk. Pembina DPW ALFI/ILFA Jawa Timur sekaligus Sekretaris DPD Aptrindo Jatim, Arief Tejo Sumartono, mengatakan pengusaha truk kerap terkendala barcode pembelian solar subsidi yang tiba-tiba tidak aktif saat perjalanan.

Akibatnya, operator truk terpaksa membeli BBM non subsidi dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan perhitungan operasional sebelumnya.

“Kalau harus beralih ke BBM non subsidi secara mendadak, biaya operasional bisa membengkak cukup besar karena hitungan awal menggunakan solar subsidi,” kata Arief.

Selain persoalan barcode, keterbatasan stok solar subsidi di sejumlah SPBU jalur logistik juga disebut menjadi kendala utama. Kondisi itu membuat armada logistik tidak memiliki banyak pilihan selain membeli BBM non subsidi agar distribusi tetap berjalan.

Sejak April 2026, harga diesel non subsidi tercatat mengalami kenaikan signifikan di berbagai SPBU. Harga Dexlite milik Pertamina naik menjadi Rp23.600 per liter dari sebelumnya Rp14.200 per liter, sedangkan Pertamina Dex mencapai Rp23.900 per liter.

Sementara itu, harga BBM diesel di SPBU swasta juga mengalami kenaikan. BP Ultimate Diesel tercatat naik menjadi Rp25.560 per liter, sedangkan Diesel Primus milik Vivo mencapai Rp30.890 per liter.

Pelaku usaha menilai kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan biaya distribusi nasional dan berpotensi memengaruhi harga barang di pasaran apabila situasi terus berlanjut.

Sumber:
KabarBisnis.com, AsatuNews.co.id, Surya.co.id