Jakarta – Negara-negara ASEAN didorong untuk mempercepat transformasi transportasi darat melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), kendaraan otonom, serta digitalisasi layanan transportasi publik. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan, mengatakan perkembangan geopolitik, perubahan harga bahan bakar, transisi energi, hingga perubahan iklim menjadi tantangan yang membutuhkan respons bersama antarnegara ASEAN.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan masing-masing negara secara terpisah tidak lagi cukup untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut. Karena itu, kolaborasi regional diperlukan untuk menjaga keberlangsungan rantai pasok global sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Transportasi darat dinilai memiliki peran penting dalam mendukung perdagangan domestik, rantai pasok global, serta mobilitas masyarakat. Pengembangannya pun tidak lagi hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi mulai diarahkan pada penerapan teknologi transportasi masa depan.
Dalam The 35th ASEAN Land Transport Working Group (LTWG), sejumlah agenda transformasi transportasi dibahas, termasuk pemanfaatan AI untuk kendaraan otonom, digitalisasi transportasi publik, pengembangan Intelligent Transport Systems (ITS), peningkatan efisiensi energi, serta pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD).
Aan menjelaskan, ASEAN Transport Sectoral Plan (ATSP) 2026–2030 menjadi salah satu acuan untuk memperkuat konektivitas kawasan melalui sistem transportasi darat yang lebih aman, efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Kerja sama antarnegara ASEAN juga diarahkan untuk mempercepat digitalisasi, mendorong inovasi teknologi, meningkatkan aspek keberlanjutan lingkungan, serta memperluas akses transportasi yang inklusif.
Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat, Yusuf Nugroho, mengatakan pertemuan LTWG menjadi momentum untuk memperkuat implementasi ATSP 2026–2030 yang merupakan kelanjutan dari Kuala Lumpur Transport Strategic Plan (KLTSP) 2016–2025.
Sejumlah agenda prioritas yang dibahas mencakup pengembangan jaringan perkeretaapian, pemeliharaan ASEAN Highway Network (AHN), target penurunan angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas hingga 50 persen pada 2030, serta berbagai program transportasi berkelanjutan.
Di tingkat nasional, Indonesia juga memperkuat transformasi sektor transportasi melalui implementasi Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (RUNK), perluasan penerapan ITS, modernisasi layanan transportasi publik, serta percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
Penguatan kolaborasi dan pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat menghasilkan sistem transportasi darat ASEAN yang semakin terhubung, efisien, aman, dan mampu mendukung kelancaran rantai pasok di kawasan.
Sumber: Kompas.com