Surabaya – Upaya menjaga efisiensi sektor logistik di tengah persaingan global tidak hanya bergantung pada kesiapan infrastruktur. Diperlukan strategi yang terukur, peningkatan aspek keselamatan, serta keterbukaan terhadap masukan dari pelaku usaha di lapangan.
Melihat kebutuhan tersebut, Subholding Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) bersama PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dan PT Terminal Teluk Lamong (TTL) menggelar forum Coffee Morning bersama Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (DPW ALFI/ILFA) Jawa Timur.
Forum yang mengusung pendekatan Voice of Customers ini menjadi wadah diskusi bagi pelaku usaha logistik untuk menyampaikan pengalaman, memetakan hambatan operasional, sekaligus memberikan evaluasi terhadap sejumlah perbaikan layanan yang telah berjalan. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat komunikasi antar-pemangku kepentingan demi terciptanya operasional pelabuhan yang lebih terintegrasi, efisien, dan adaptif.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, menilai peningkatan kualitas layanan di terminal petikemas tidak dapat dilakukan secara terpisah. Menurutnya, pelabuhan merupakan bagian dari ekosistem besar yang melibatkan berbagai pihak.
Ia menegaskan, peningkatan mutu layanan membutuhkan sinergi kuat antara operator terminal, pengguna jasa, pelaku logistik, hingga perusahaan pelayaran agar operasional berjalan optimal.
Salah satu isu utama yang dibahas dalam forum tersebut ialah kepadatan aktivitas terminal serta lamanya masa penumpukan kontainer (dwelling time) seiring meningkatnya arus distribusi barang.
Erika menjelaskan, persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan kapasitas fisik pelabuhan, tetapi juga dipengaruhi efektivitas sistem pendukung di balik operasional. Kepatuhan terhadap regulasi, kecepatan administrasi, sinkronisasi data, serta optimalisasi layanan digital menjadi faktor penting dalam mengurai hambatan di lapangan.
Selain membahas aspek teknis, forum ini turut menyoroti pentingnya perubahan budaya kerja di lingkungan pelabuhan. Seluruh ekosistem didorong lebih adaptif dan berfokus pada service excellence guna meningkatkan daya saing logistik nasional di tingkat global.
Dalam diskusi tersebut, anggota DPW ALFI Jatim juga menyampaikan berbagai aspirasi dan gambaran kondisi riil operasional di lapangan. Dari pembahasan interaktif itu, terdapat tiga poin utama yang menjadi perhatian bersama.
Pertama, standardisasi layanan di seluruh lini bongkar muat agar kualitas pelayanan berjalan selaras. Kedua, optimalisasi area penumpukan kontainer untuk menghindari potensi bottleneck atau hambatan distribusi. Ketiga, menjaga konsistensi sistem digital yang terintegrasi guna memangkas proses birokrasi serta mempercepat waktu tunggu kontainer.
Sebagai tindak lanjut, pengelola terminal menyatakan komitmennya untuk terus melakukan evaluasi operasional, memaksimalkan fasilitas pendukung, serta memperkuat sistem digital demi menciptakan layanan yang lebih cepat dan transparan.
Sementara itu, DPW ALFI Jatim bersama para pengguna jasa juga siap mendukung kelancaran operasional dengan meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur, memperbaiki perencanaan logistik, serta mempercepat proses administrasi. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong terciptanya pelabuhan yang semakin kompetitif dan berkelanjutan.
Sumber: KabarBaik.co