Kans Untung Pengusaha Logistik Lenyap Gara-gara Solar Langka

Sabtu, 09 Apr 2022 08:37 WIB
SHARE

Jakarta, CNN Indonesia — Pengusaha logistik di daerah terpaksa menanggung rugi akibat kelangkaan BBM jenis solar yang terjadi beberapa hari terakhir. Pasalnya, pengiriman barang menjadi lebih lama dari seharusnya.

Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Sumatera Selatan Haris Jumadi mengatakan pengusaha ekspedisi rata-rata kehilangan potensi keuntungan sebesar 3 persen-5 persen.

“Loss 3 persen-5 persen (dari potensi pemasukan),” ungkap Haris, Rabu (6/4).

Menurut Haris, kelangkaan solar membuat waktu pengisian BBM menjadi lebih lama. Para sopir kendaraan logistik pun harus menyesuaikan waktu agar pengiriman barang tak terganggu.

“Akibatnya terjadi penurunan pelayanan, terjadi keterlambatan penerimaan ke pengguna akhir. Secara umum akibatnya terjadi perlambatan ekonomi karena pasokan bahan baku atau barang jadi siap jual yang diangkut mengalami keterlambatan,” papar Haris.

Ia meminta pemerintah dan PT Pertamina (Persero) dapat memberikan solusi jangka panjang untuk menangani kelangkaan solar. Sebab, dampak yang dirasakan pengusaha logistik akan memiliki efek domino terhadap perekonomian.

“Untuk usaha logistik, secara umum terjadi kerugian perusahaan. Tapi dampak dominonya akan terasa bila terjadi kelangkaan meskipun hanya sebentar. Harapan kami, Pertamina bisa buang papan informasi ‘BBM Dalam Pengantaran’ di seluruh SPBU,” jelas Haris.

Sebelumnya, terlihat antrean kendaraan yang cukup padat di SPBU 24.301.147 Jl Letjen Harun Sohar, Palembang. Mereka hendak mengisi Solar. Namun, antrean tak sampai mengular ke badan jalan seperti sebelumnya.

Andi, salah satu pengemudi truk mengatakan sempat melihat antrean kendaraan yang mau mengisi solar sampai 200 meter ke arah Simpang Bandara-Tanjung Api-Api.

“Kalau di sini memang padat, tapi memang normalnya seperti ini. Kemarin itu sampai ke jalan, lumayan macet soalnya di sini banyak truk dan mobil besar lewat kan,” ujar Andi.

Pemandangan berbeda terlihat di SPBU 24.301.108 KM 12 Jl SMB II Palembang. Terpantau, antrean kendaraan yang ingin mengisi solar cukup lengang.

Senior Supervisor Communication & Relation Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Haris Yanuanza mengatakan terdapat 27 SPBU di Palembang yang melayani pembelian BBM solar.

Menurut Haris, pihaknya telah mendistribusikan solar sebanyak 523 liter pada Selasa (5/4). Jumlah tersebut naik 12 persen dari rata-rata harian bulan lalu.

“Jumlah distribusi ini sudah mengatasi antrean yang kemarin sempat panjang,” ucap Haris.

Ia mengimbau agar masyarakat tetap tenang karena stok solar masih aman. Pertamina juga terus memantau distribusi agar tetap lancar di lapangan. “Jika masyarakat menemukan indikasi penyalahgunaan bisa melaporkan ke aparat yang berwenang dan Pertamina Call Center di 135,” jelas Haris.

Nasib yang sama dialami pengusaha logistik di Sulawesi Selatan. Ketua Asosiasi Logistik dan Forwanding Indonesia (ALFI) Sulselbar Syaifuddin Syahrudi mengatakan kelangkaan pasokan solar membuat biaya operasional melonjak.

“Akibat kelangkaan solar, produktivitas armada angkutan logistik menurun karena lebih banyak mengantre daripada jalan dengan waktu produktif,” ucap Syaifuddin.

Ia mengatakan pengusaha harus menambah upah untuk sopir karena jam kerja otomatis bertambah. Hal ini menjadi salah satu biaya operasional membengkak.

“Khususnya tambahan biaya kepada sopir karena menanti solar. Jika menggunakan BBM non subsidi itu disparitas harga sangat besar, yakni Rp8.100 per liter,” ujar Syaifuddin.

Selain itu, pengusaha juga harus keluar uang lebih untuk membayar biaya penumpukan. Hal itu karena armada tak bisa beroperasi dengan maksimal.

“Dilema pengusaha angkutan logistik menaikkan harga angkutan, sedangkan di satu sisi masih ada solar, walau masih mengantre yang berdampak penambahan biaya, dan satu menggunakan Dexlite penyesuaian pasti akan sangat besar,” jelas Syaifuddin.

Meski begitu, ia bersyukur karena pasokan solar mulai kembali normal pada April 2022. Syaifuddin mendapatkan laporan bahwa kendaraan tak perlu mengantre lama lagi untuk membeli Solar.

Kelangkaan solar sempat terjadi di Sulawesi Selatan pada pertengahan Maret 2022 lalu. Hal ini membuat antrean menumpuk di Makassar, Parepare, dan Bone.

Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini dan Direktur Rekayasa dan Infrastruktur Darat Pertamina Patra Niaga Eduward Adolof Kawi melakukan sidak di beberapa SPBU di sekitar Makassar dan Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (2/4) lalu.

Pada sidak tersebut, Direksi Pertamina Group memastikan bahwa pasokan BBM di Kota Makassar dan Kabupaten Maros dalam kondisi aman dan terpantau lancar di SPBU.

Selain itu, untuk mengantisipasi tingginya permintaan kebutuhan BBM di masyarakat, Pertamina Patra Niaga telah melakukan penambahan pasokan BBM dan LPG ke lembaga penyalur jelang Ramadan.

“Pertamina Patra Niaga menyiapkan build up stok sebesar 15 persen untuk BBM dan 10 persen untuk LPG, serta penambahan layanan tambahan jelang Idul Fitri dengan membentuk tim Satgas khusus sejak Maret 2022,” jelas Emma.

Nasib yang sama dialami oleh pengusaha logistik di Surabaya. Ketua Organisasi Pelabuhan Angkutan Darat (Organda) Khusus Tanjung Perak Surabaya Kody Lamahayu mengatakan proses distribusi dan bongkar muat logistik terhambat karena solar langka dalam tiga hari terakhir.

“Yang terjadi kelangkaan solar itu yang paling parah kan 3 hari ini,” kata Kody.

Padahal, kata Kody, proses distribusi dan bongkar muat bahan logistik melonjak karena sudah memasuki Ramadan. Biasanya, kebutuhan masyarakat naik signifikan saat Ramadan.

“April ini kami khusus mengangkut semua kebutuhan untuk Idul Fitri tanggal 2-3 mei. Kalau terjadi kelangkaan Solar akan menghambat angkutan yang dibutuhkan untuk Idul Fitri,” ucap dia.

Sementara, pengusaha logistik juga mustahil beralih ke BBM jenis Dexlite atau Pertamina Dex. Sebab, harga dua jenis BBM itu jauh lebih mahal dibandingkan dengan solar.

Pengusaha logistik lebih memilih menghentikan layanan operasional sembari menunggu BBM jenis solar kembali tersedia di SPBU.

“Karena selisih harga Dexlite dengan Pertamina Dex dengan subisdi itu hampir dua kali lipat. Jadi, tidak mungkin misalnya Solar habis terus beralih ke Pertamina Dex atau Dexlite,” ungkap Kody.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah bisa cepat menjamin ketersedian solar secepatnya karena pengiriman logistik sedang ramai. “Yang kami butuhkan, yaitu B30 (solar) agar tetap tersedia sampai pekerjaan kami semua teratasi dengan baik,” jelas Kody.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220407144441-92-781667/kans-untung-pengusaha-logistik-lenyap-gara-gara-solar-langka